Kamis, 26 Mei 2016
Senin, 04 Januari 2016
Embun di Tanah Tandus
Debu berterbangan dengan lembut
menyelimuti lapangan tanpa rumput, anak-anak tanpa baju itu berlari riang
mengejar bola usang, setidaknya itu dapat membuat mereka melupakan sejenak
segala penderitaan yang senantiasa hadir tanpa henti dalam hari-hari mereka. Radius
100 meter, lapangan itu dikelilingi oleh gubuk-gubuk dan tenda pengungsian,
terdengar rengekan dari salah satu gubuk,
“Bang, lapar, kapan makan, perut
Elhan sakit.” Rengek anak kecil berbadan kurus dengan usia kisaran 7 tahun,
bernama Nur Elhan.
“Iya bang, Bibi nggak tahan lagi,
perut Bibi perih.” Tambah adiknya yang 2 tahun lebih muda, Nur Bibi namanya.
Rengekan kedua adik perempuannya
membuat Farid Alam tambah bingung dan kalut, mau dimana lagi ia harus mencari
makanan untuk adik-adiknya, semua persediaan makanan telah habis terbakar pasca
serangan kaum Budhist Myanmar dan juga para tentara nasional 4 hari lalu.
”Tunggu sebentar ya, abang cari
makanan dulu, nggak lama kok.” Jawab Farid sebelum ia berlari keluar gubuk.
Ia berlari tanpa tujuan mencari apa
yang bisa dimakan untuk kedua adiknya, belum kering semburat luka dihatinya
setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana ayah dan ibunya
dibakar hidup-hidup ketika empat hari lalu secara tiba-tiba kaum Budhist
merangsek masuk ke pemukiman mereka, lalu menghabisi segala yang ada, rumah,
gubuk, tenda, mushollah, bahkan anak-anak kecil tidak sedikit yang akhirnya
terbunuh secara tragis.
“Farid..!” seseorang memanggil,
membuat Farid mencari asal suara.
“Bhakye Zaw (Paman Zaw)?” bisik
lirih Farid setelah menemukan sumber suara, yang selanjutnya memutuskan untuk
menghampiri, berharap lewat Paman Zawlah Allah memberikan pertolongan.
“Kau sedang mencari makanan untuk
adikmu ya?” Tanya Paman Zaw
“Iya.” Jawab singkat Farid dengan
nafas tersengal-sengal
“Kebetulan, aku punya sedikit beras
yang bisa kau gunakan untuk makan adikmu, tapi sebelum itu aku juga butuh
bantuanmu untuk membenarkan gubukku ini.” Jelas paman Zaw
“Ah baiklah Bhakye.” Jawab girang
Farid
“Baguslah, kalau begitu kau ambil
dua genggam beras di belakang, lalu kau pulang dan beri adikmu makan, setelah
itu kau kembali kemari untuk membantuku.”
“Iya Bhakye, terimakasih.” Sahut
Farid yang langsung mengambil beras, dan berlari sekuat tenaga dengan dua
genggam beras di tangannya, senyumpun terlukis indah di wajahnya.
“Abang, lapar…” sambut kedua adiknya
tatkala Farid menginjakkan kaki di selasar gubuk mereka.
“Sabar ya, Allhamdulillah ini ada
beras sedikit, kita masak ya.” Jawab Farid menanggapi rengekan adiknya.
Segera saja mereka semua menuju
sudut ruangan, tempat yang dulu biasa ibu mereka gunakan untuk memasak, dan
kini tidak ada lagi sosok Ibu yang biasanya memasakkan makanan untuk mereka,
yang walaupun sederhana, namun tetap terasa lezat karena direngkuh akan rasa
kekeluargaan, kenangan itu masih kental tergenang di sudut ingatan Farid yang
sedang sibuk menanak nasi, beberapa butir beras terjatuh ke lantai tanah, yang
sigap adiknya mengutipi beras itu untuk segera dilahapnya karena sudah tidak
tertahankan lagi rasa lapar yang mereka rasakan.
***
Penderitaan
yang dialami etnis Rohingya di Myanmar memang tidak bisa pandang sebelah mata, konflik
yang memuncak di bulan Juli 2012 antara Rohingya (Muslim) dengan penduduk
mayoritas Rakhine telah memberikan dampak yang meluas ke dalam kehidupan
politik dan kehidupan umat beragama di Myanmar, pemerintah Myanmar tidak lagi
mengakui Rohingya sebagai warna Negara dan sebagai etnis yang eksis di Myanmar.
Sistemical Operation yang dijalankan pemerintah untuk mengeliminasi etnis Rohingya
adalah dengan melibatkan kelompok ekstrimis Budha 969. Kelompok ekstrimis ini
dalam perjalanannya telah mengancam dan melanggar hak asasi manusia etnis-etnis
minoritas di Myanmar, terutama etnis Rohingya. Rangkaian peristiwa di Arakan
yang dialami oleh Rohingya semakin membuka mata dunia bahwa peristiwa yang
terpelihara selama beberapa dekade tersebut bukan merupakan konflik sosial
semata, melainkan ada agenda besar untuk menghapuskan etnis Rohingya dari bumi Arakan dan upaya eliminasi Islam dari tanah
Myanmar. Eliminasi ini dilakukan oleh kelompok 969 yang didukung oleh
pemerintah Myanmar. Eliminasi dimulai dari basis Islam terbesar di Myanmar,
yaitu Arakan (Rakhine), kemudian Meikhtila, Yangon, dan daerah basis Islam
lainnya di Myanmar. Kelompok ekstrimis ini tidak lagi hanya menyerang
eksistensi Rohingya di Arakan, namun juga keseluruhan Muslim di Myanmar.
Terbukti dari kebrutalan kelompok ini telah menewaskan sebanyak 400 lebih
muslim Meikhtila dan 100 lebih diantaranya adalah anak-anak yang “dipenggal”
dan digantung secara keji oleh kelompok ekstrimis tersebut. Diskriminasi yang
berujung pada upaya eliminasi etnis Rohingya di arakan sudah dimulai sejak
adanya perjanjian penyatuan etnis di Myanmar pada tahun 1947 dalam rangka
menyongsong kemerdekaan Myanmar tahun 1948, dimana saat itu etnis Rohingya
tidak ikut dilibatkan dan tidak ikut menandatangi Perjanjian Persatuan
tersebut.
”Bagaimana, apakah adik-adikmu sudah
kau beri makan?” Tanya paman Zaw disela-sela kesibukannya memperbaiki gubuknya.
“Allhamdulillah sudah Bakhye,
sekarang mereka sedang tidur, sudah berjam-jam mereka menangis.” Jawab Farid
yang sedang membantu Paman Zaw.
“Lebih bersabarlah dalam menjalani
cobaan Allah ini Farid, jangan terlalu kau ratapi kepergian Ayah dan Ibumu,
InsyaAllah mereka tergolong syahid.”
“Tapi…. terkadang aku benar-benar
merasa geram dengan segala perbuatan pemerintah Myanmar Bakhye, bukannya
melindungi, malah sama kejinya dengan kaum Budhist itu.” Kalimat terlontar
dengan tatapan kosong Farid.
“Pemerintah Myanmar memang sudah
terang-terangan menyatakan etnis kita tidak termasuk etnis Myanmar, dengan kata
lain, kita sudah tidak diakui sebagai warga negara Myanmar, mau tak mau segala
siksaan harus kita rasakan, sampai sekarangpun bantuan nyata dari Negara lain
belum ada, seakan mereka menutup mata atau memang ditutupipun Bakhye tidak
tahu.”
Sejenak mereka saling menatap kosong
”Sebenarnya ada yang mau Bakhye
katakan padamu Farid.” Sambung Bakhye Zaw setelah menghentikan sejenak
pekerjaannya.
“Apa Bakhye?” Tanya Farid dengan
heran menggumpal di benaknya.
“Bakhye dan beberapa penduduk lain
besok akan pergi dari tempat ini, kami memutuskan untuk keluar dari Myanmar,
terserah kemana yang penting lepas dari segala bentuk penindasan, biar
bagaimanapun kita harus hijrah demi keselamatan kita, terlebih demi keselamatan
etnis kita.” Jelas Bakhye dengan nada serius.
“Kita keluar dari Myanmar? Tapi
tetap tidak ada jaminan kita bisa hidup tenang, kita belum tahu tujuan, kita
akan tekatung-katung di laut lepas, kalaupun kita terdampar di negeri orang,
kita tidak lantas mendapat perlakuan baik, banyak dari kita akan dijadikan
budak Bakhye.”
“Itu lebih baik ketimbang terus
menerus ditindas seperti ini, sudah lebih dari 4000 pemukiman yang mereka
hancurkan dalam sekali serangan, belasan tempat ibadah kita juga tidak luput
dari kekejaman mereka, walau Bakhye telah mengikhlaskan, tapi masih nyaring
terdengar di telinga, suara jeritan anak dan istri Bakhye ketika dibakar
hidup-hidup oleh mereka, melawanpun kita tidak punya kekuatan, datanglah besok
selesai Shalat Shubuh, pikirkan keselamatan adik-adikmu.” Tutup Bakhye setelah
menyuruh Farid untuk pulang.
***
Sudah
5 hari perahu kecil itu terapung di atas lautan tanpa tujuan, perahu yang
seharusnya hanya berkapasitas 10 orang
pada akhirnya hanya mampu bungkam menampung 37 orang, persediaan makanan sudah
tidak ada sama sekali, 3 hari lalu mereka tertangkap oleh tentara angkatan laut
Myanmar yang menjaga perbatasan, seperti biasa, mereka digiring kepulau
terpencil terdekat, lalu semua bahan makanan seadanya hasil patungan penduduk
yang menumpang perahu diambil habis oleh tentara Myanmar, tidak cukup sampai
disitu bahan bakar perahupun tidak luput dari objek jarahan, setelah itu mereka
kembali dilepas kelaut, dengan tujuan akan mati secara perlahan-lahan di atas
laut, tanpa makanan dan tanpa bahan bakar mesin perahu. Kembali pecahlah
tangisan Nur Elhan dan Nur Bibi, merekalah penumpang paling muda dalam perahu
itu setelah Farid Alam memutuskan untuk ikut dengan rencana pamannya, berdiam
di tanah Myanmarpun hanya menambah luka yang menganga pikirnya.
“Bang, kita mau kemana? Bibi lapar.”
“Elhan juga bang, Elhan kangen Ibu
sama Ayah.”
“Bakhye, bagaimana ini?” Tanya
Farid, dengan raut wajah kalut.
“Bersabarlah, tenangkan adik-adikmu,
kita hanya bisa berharap dapat menemukan pulau untuk segera berlabuh dan
mencari bahan makanan.” Jawab salah seorang wanita tua penumpang perahu.
Belum tenang suara rengekan Elhan
dan Bibi, datang suara yang lebih mengejutkan, suara tembakan.
“Itu tentara Thailand, kita telah
masuk perbatasan Thailand.” Kata salah seorang penumpang pria.
“Merunduk..!!” Suara keras Bakhye
memberikan instruksi.
Seluruh penumpang perahu riuh
ketakutan, inilah sebenarnya yang ditakutkan Bakhye dalam perjalanan, setiap
kali imgran gelap Rohingya memasuki perbatasan Thailand, para tentara penjaga
tidak segan-segan melepaskan tembakan bertubi-tubi.
“Dorr!” Salah seorang penumpang
terkena tembakan tepat di dada sebelah kiri, membuatnya tumbang terkapar.
Disusul lima penumpang lain termasuk wanita tua tadi yang mayatnya langsung
tercebur kedalam laut.
“Farid, lindungi adik-adikmu.”
Perintah Bakhye
Nur Elhan dan Nur Bibi hanya bisa
meringkuk ketakutan, dan saat Nur Bibi mencoba melihat keadaan…
“Doorr!” peluru mengenai kepala
sebelah kanan Nur Bibi, tepat di matanya.
“Bibii…!” Farid menjerit keras
memeluk adiknya yang tidak bernyawa lagi.
“Farid, jaga Elhan..!” Bentak Bakhye
sembari terus mendayung perahu.
Belum sempat direngkuh, takdir telah
masuk waktunya, perut Nur Elhan terkena peluru tembakan, darah menyembur dengan
derasnya.
“Bang, Elhan rindu Ibu dan Ayah,
Elhan udah nggak lapar kok, Elhan duluan ya.” Kalimat terakhir mengalir dari
mulutnya ditemani darah yang keluar kental.
“Elhaan…!” suara keras Farid keluar
diimbangi dengan air mata yang deras mengalir.
Masih saja Farid memeluk kedua mayat
adiknya, tidak memperdulikan disekelilingnya telah banyak mayat bergelimpangan
penuh darah, termasuk mayat Bakhye Zaw yang lehernya telah tertembus peluru
sedari tadi.
Farid memutuskan untuk mendayung
perahu menjauh dari jangkauan tentara Thailand, sekelebat mata liar mencari
gagang dayung, hanya tinggal dia yang tersisa, digenggamnya dayung, dengan
tenaga seadanya Farid mulai mendayung, dan
“Dorr..!” bahu kirinya tertembak, ia
masih bisa mendayung dengan tertatih, ia tidak ingin adik-adiknya dimakamkan di
laut, ia terus mendayung, namun ternyata, malaikat maut telah duduk manis
menemaninya sejak keberangkatan dari Myanmar.
“Doorr, Doorr, Doorr..!” Tiga peluru
mengenai kepalanya.
Pria berkulit hitam dengan rambut
pendek, bertubuh tegap itu kini tidak bernyawa, 37 orang etnis Rohingya yang
mencoba mencari kedamaian dan kebahagiaan akhirnya berakhir di atas lautan.
Kamis, 31 Desember 2015
Ridhai Aku Ibu
Suasana rumah itu menjadi gaduh,
tidak seperti biasanya. Semua anggota keluarga berkumpul, tapi tidak sepenuhnya
itu yang menjadi alasan keributan dirumah itu.
"Nak, Ibu mohon, fikirkan
lagi rencanamu itu, perubahanmu yang seperti saja sudah membuat Ibu cukup
stres."
Ibu Inun tertatih mengikuti
anaknya Abdul yang berjalan dengan cepatnya dari dapur menuju kamar, dari kamar
menuju ruang tamu, dan dari ruang tamu kembali lagi menuju kamar yang dengan
sigap merapikan beberapa potong pakaian kedalam tas ransel berukuran besar itu,
sambil tak hentinya meneteskan bening air mata, Ibu Inun terus memohon kepada
Abdul.
"Maaf Bu, aku terlanjur
menemukan jalanku dan aku juga terlanjur memutuskan untuk menapaki jalan yang
sudah kupilih apapun yang terjadi ." jawab Abdul dengan suara lembut.
"Baik, Ibu ikhlaskan semua
perubahanmu ini, tapi tolong tarik kembali rencanamu yang ingin pergi ke tanah
Palestin, Ibu tidak akan ikhlas nak, tolong pahami perasaan Ibu." Dengan
nafas tersengal-sengal Ibu Inun memohon kepada anaknya.
"Tidakkah kau punya hati
nurani, tidakkah hatimu yang keras itu terbasuh air mata Ibu yang sudah
berulang kali memberi penjelasan untukmu, urungkanlah niatmu itu Abdul,
tinggallah tetap disini dan jalani hidup seperti pemuda kampung layaknya."
Rini kakak Abdul ikut membujuk.
Percekcokan itu sebentar
berhenti, hanya suara tangisan Ibu Inun yang terdengar, dengan tubuh gempalnya
iya terduduk lemas disamping kaki Abdul, sementara disudut kamar, anak kecil
berumur 2 tahun berdiri memegang boneka koala yang tak lain anak dari Rini,
dengan polos menonton semua kejadian itu tanpa tau maksud semua yang
dilihatnya, raut sedih diwajahnya lebih dikarenakan melihat pamannya Abdul
sedang berkemas, yang artinya mau pergi, sementara tidak ada pertanda dia mau
diajak.
"Maaf, untuk kesekian
kalinya ku ucapkan pada Ibu yang telah rela dan sabar menghadapi segala
keegoisanku, dan Kak Rini yang terus menghadapi keras kepalaku, tapi aku sudah
memilih jalan ini, jalan yang membuatku merasa tenang ketika menjalaninya, dan
merasa murka ketika ada yang berani mengusik agamaku, aku tidak merasa cukup
kalau hanya berdiam disini, menyerukan berbagai kecaman tidak berguna,
melakukan aksi dijalanan yang sama sekali tidak menggetarkan hati orang-orang
dipemerintahan, sementara nyawa dan darah saudara semuslim kita disana terus
menjadi camilan bagi moncong-moncong roket manusia-manusia zionis tak bermoral,
aku ingin menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri darah tentara-tentara Iblis
itu mengalir, aku ingin sekali merasakan dengan tanganku sendiri, daging
tentara-tentara Iblis itu robek dan tertembus peluru para syuhada, aku juga
sudah muak dengan segala tingkah mereka yang telah mengobrak-abrik
negara-negara Islam termasuk negara kita, sudah berapa jumlah pemuda-pemuda
Islam yang telah mereka obrak-abrik aqidahnya lewat perang fikiran yang mereka
lakukan dengan begitu sistematisnya, dan apa yang dilakukan oleh umat Islam
kebanyakan Bu? Kak? Mereka semua tenggelam oleh kemegahan duniawi, seakan-akan
apa yang mereka lakukan tidak akan pernah dimintai pertanggungjawabannya kelak,
hidup tidak hanya cukup bangun pagi lalu pergi kesawah sampai senja menjelang,
lalu pulang dan istirahat sampai pagi kembali datang, hidup tidak bisa
sesederhana itu Bu, tolong pahami semua ini, aku tahu pemahaman kalian belum
sampai kesitu, tapi jangan salahkan pemahamanku yang sudah berlari terlalu
jauh, tapi justru karena itu, sepucuk hatiku menjadi tau, jalan lurus yang
telah dipersiapkan Allah untukku yang selama ini telah dipenuhi semak belukar,
maka mulai sekarang, ridhai aku Bu untuk menapaki jalan itu, InsyaAllah suatu
saat akan Abdul tuntun Ibu untuk bersama kita menapaki jalan lurus Allah,
kalaulah Ayah masih ada, Aku yakin ia akan paham akan semua ini." panjang Abdul
menjelaskan.
Hanya tangisan pilu dari Ibu Inun
yang dapat menjawab semua penjelasan panjang lebar anaknya Abdul Fatah, gurat
wajah dan tiap tetes air mata yang jatuh kelantai seakan menyiratkan makna
bahwa tetap saja Ibu Inun tidak rela anaknya pergi. Bagaimana tidak, Abdul
adalah satu-satunya anak laki-laki yang ia punya, sedari dalam kandungkan,
buaian, pangkuan dan tuntunan, ia membesarkannya dengan penuh kasih sayang,
masih begitu lekat dalam ingatannya, ketika Abdul masih belajar berjalan,
berkali-kali ia jatuh dan menangis namun ditanggapi tawa oleh Ibu Inun dan
suaminya, tiap hari minggu Abdul selalu dibawa jalan-jalan di pinggiran sawah,
bersama Ibu Inun dan Suaminya, juga kakaknya Rini.
Semakin umur bertambah,
mengganggu kakaknya yang sedang belajar merupakan pekerjaan rutin yang
dilakukan Abdul ketika berumur 4 tahun, sampai akhirnya Abdul tumbuh menjadi
remaja yang aktif, hari-hari ia jalani seperti anak remaja kebanyakan, sekolah,
keluar rumah ntah kemana, lalu pulang, dan waktu malam dihabiskannya untuk
belajar, ibadah juga cukup terjaga, namun tidak dapat dipungkiri, kecerdasannya
dalam berfikir melebihi anak-anak seusianya, Abdul sangat kritis terhadap
hal-hal yang terkadang sama sekali tidak terfikirkan oleh orang lain, bahkan
oleh gurunya di sekolah, ia suka berkumpul dengan teman-temannya untuk diskusi
hal apapun, hal ini ditanggapi biasa oleh Ibunya, sampai datang kabar bahwa
ayahnya mengalami kecelakaan, itu adalah hari yang begitu memilukan bagi
keluarga Bu Inun, sampai kesedihan itu larut bagai garam dalam air minum,
kehidupan Ibu Inun dijalani dengan rasa yang begitu asin, sering kali kesedihan
itu menusuk hati Ibu Inun tatkala merindukan suaminya, kalau sudah begitu,
Abdul selalu hadir merengkuh Ibunya dan membuat rasa rindu yang membeku menjadi
luruh, itulah mengapa Bu Inun sangat menyayangi Abdul, karena hanya Abdul yang
menemaninya sehari-sehari, terlebih ketika Rini memutuskan untuk tinggal
bersama suaminya, suka duka sering dilewati bersama anak tersayangnya itu,
Abdul Fatah, Abdul seringkali menanyakan banyak hal kepada Ibunya, khususnya
dalam hal agama, agama yang ia yakini
"Bu, kenapa Islam dianggap
sebagai agamanya para teroris?"
"Dari mana kau dapat berita
seperti itu Nak?" tanya Bu Inun dengan heran.
"Itu sudah menjadi pandangan
umum masyarakat dunia Bu, lihat saja ketika ada penangkapan teroris di Tv, yang
paling fokus di sorot kamera pasti selalu Al-Qur'an, kitab-kitab karya para
ulama besar seperti Riyadush Salihin, kitab Fiqih, Kitab Hadist, dan lain
sebagainya, seakan-akan semua itu ingin menyampaikan bahwa semakin kita beriman
kepada Allah, semakin besar kemungkinan kita menjadi teroris, dan dalam banyak
film Hollywood setiap peran teroris selalu diperankan oleh orang Arab, Ibu
perhatikan saja kalau tidak percaya." jelas Abdul.
"Ibu pun tidak bisa menjawab
banyak Nak, suatu saat kamu pasti akan mendapatkan jawabannya, yang jelas,
Islam tidak seburuk yang mereka pandang." jawab singkat Bu Inun.
"Suatu saat, Abdul ingin
sekali menjadi orang yang berada dalam barisan terdepan orang yang membela
Islam Bu, kata Pak Ustadz nanti kita akan menjadi syuhada." ucap Abdul
dengan mata berkaca-kaca dan raut wajah begitu semangat.
"Silahkan Nak, tapi untuk
saat ini tetaplah berada di samping Ibu, semenjak kepergian ayahmu, Ibu merasa
sangat kesepian, kakakmu pun jarang pulang, cukuplah menjadi anak yang
senantiasa merengkuh Ibumu yang semakin ringkih ini."
"InsyaAllah Bu, akan aku
lakukan." jawab Abdul singkat.
Waktu terus merayap, berganti,
sampai tiba masa Abdul terlihat begitu antusias dengan segala hal yang berbau
Islam, tiap hari ia habiskan waktunya untuk berdiskusi dengan orang-orang paham
agama, untuk sekedar membahas berbagai hal mengenai Islam, berbagai organisasi
islam pun diikutinya, sampai pada hari terucapnya kalimat yang begitu membuat
hati Ibu Inun bak gunung yang siap memuntahkan segala apa yang ada didalamnya,
hatinya seakan hendak rubuh dan hancur berserakan, kakinya serasa tak mampu
lagi menopang berat tubuhnya, ia sungguh tak menyangka anak yang paling
disayanginya akan mengutarakan hal itu.
"Ibu, Abdul ingin ke
Palestina, ada organisasi yang siap menghantarkan relawan kesana,
Allhamdulillah berbekal hafalan Al-Qur'an 28 Juz, InsyaAllah Abdul bisa masuk
kedalam kelompok pejuang disana, mohon ridhai Abdul ya Bu."
Dengan rasa haru biru, yang
berkecamuk menjadi satu, Ibu Inun berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri,
sampai ia teringat akan pesan suaminya dulu.
"Inun, aku tidak bisa
menjamin akan terus bisa menemanimu mengarungi kehidupan di bumi Allah ini,
bisa saja suatu saat nanti aku yang akan berpulang duluan menikmati gelap dan
sunyinya liang lahat disana, dan kalau itu benar terjadi, aku titip Abdul
kepadamu, jaga dia sebaik mungkin, ikhlaskan kepergianku. Aku percaya Abdul
akan menemanimu tatkala kau merasa rindu, aku juga ingin berpesan pilihkan
suami yang baik untuk Rini kelak, jika aku tak sempat melihatnya menikah, dan
yang perlu kau tau, seberapa besar bakti Abdul kepadamu nanti, jangan pernah
untuk terus mengekangnya, tolong berikan dia kebebasan untuk menentukan
jalannya, dan beri ridhamu untuknya. Pegang pesanku ini dengan baik, karena
suatu saat kau pasti akan mengingat semua apa yang aku katakan, dan ketika itu
terjadi, maka putuskanlah sesuai hati nuranimu."
Sekelebat kenangan itu menjamah
ingatan Ibu Inun yang langsung tersadar melihat anaknya Abdul sudah hendak
berangkat, lalu bersujud bersimpuh dipangkuan Ibu Inun sambil menangis dengan
begitu memilukan.
"Ibuu, aku sungguh sangat
menyayangimu, aku sungguh sangat mencintaimu, engkau telah begitu tulus
membesarkan aku dengan tangan malaikatmu, dengan hatimu yang kuanggap sebagai
potongan cahaya surga Allah, aku masih begitu ingat betapa lembut engkau belai
rambutku ketika aku hendak mau tidur, betapa bening senyummu tatkala aku
menangis meminta sebuah mainan, betapa bening peluhmu saat menyajikan makanan
untukku, yang bagiku itu adalah makanan terlezat yang pernah kulahap, aku
sungguh sangat ingin berbakti kepadamu, namun untuk kali ini, izinkan aku
berbakti kepada saudara semuslim ku, saudara semuslim kita, semua keindahan
yang pernah terajut indah dalam rumah ini InsyaAllah akan kembali kita rasakan
kelak di surga, bersama ayah, kak Rini, aku dan Ibu, hapus air matamu Bu,
gunakan air matamu itu untuk mendoakan keselamatan ataupun kepergianku, aku
hanya mohon ridhamu untuk ku anakmu Ibu." Abdul memohon dengan tangis
begitu pilu.
Dengan deraian air mata yang
menyayat hati siapa saja yang melihat, Ibu Inun pun menjawab.
"Pergilah Nak."
"Ibu...?" Rini bertanya
heran.
"Pergilah, Ibu Ridhai engkau
terbang ketanah para Nabi, Ibu akan berusaha mengikhlaskan kepergianmu
sebagaimana Ibu mengikhlaskan kepergian ayahmu, biarlah Ibu sendiri disini, Kak
Rini bisa beberapa tahun sekali melihat Ibu, jaga keselamatan dan kesehatanmu
disana ya Nak," air mata Bu Inun terus mengucur. "mungkin Ibu memang
tidak bisa berada disampingmu, tapi yakinlah Doa Ibu akan terus merengkuh
tubuhmu, pulanglah Nak jika ada kesempatan, Ibu akan senantiasa menunggumu
dirumah ini, sekalipun dengan kerinduan yang teramat sangat, akan Ibu masak makanan
terbaik untuk menyambutmu jika pulang kelak, tapi kalaupun kau tak pernah
pulang, juga tak apa, Ibu tunggu kau disurga kelak bersama ayahmu. Kuatkan
hatimu ya nak, mungkin Ibu tidak bisa lagi memelukmu disana tatkala kau
merindukan Ibu, pergilah, Ridhaku aku berikan untuk mengiringi
kepergianmu."
Suasana haru begitu menusuk tajam
pada tiap hati mereka, pada akhirnya Abdul pun melangkah pasti meninggalkan
rumah, dengan tangisan yang begitu berat, Ibu Inun dan Rini melepas kepergian
Abdul, yang terus berjalan dengan pasti, kini hanya tinggal kamar itulah yang
menjadi saksi bisu haru biru itu, semua kenangan terkatup rapi disudut kamar
itu.
Selesai
“Jadilah pemuda Muslim tegar yang
akan menjadi mata pedang agama, kuatkan pundakmu untuk menopang amanah, bak
rerumputaan hijau menopang embun bening pagi hari. Bersahaja hangat bak sinar
mentari pagi tatkala matahari tersipu malu terbit dari ufuk timur,
berkepribadian sederhana berbalut keindahan, bak cahaya senja tatkala matahari
tumbang terbenam di ufuk barat.” -M T Nasution-
Kamis, 05 Desember 2013
Uquuqul Walidain
Pada nikmat berupa kesempatan ini, saya akan membahas dan memberi pengertian
sedikit mengenai Uquuqul walidain (Durhaka kepada orang tua) saya sadar saya
bukan lah orang yang pantas untuk berceramah mengenai hal itu kepada para
pembaca, mengingat pemahaman saya yang amat minim dan juga kriteria saya yg
juga belum pantas di kategorikan ke dalam golongan orang al-birru bihi, tapi
sebagai umat beragama yg di wajibkan untuk saling memberitahu, mengingatkan,
dan menasihati, izikan lah saya menyampaikan sedikit hal yg semoga bermanfaat
bagi para pembaca melalui postingan saya ini, sadarkah anda betapa luar biasa
nya sosok kedua orang tua anda dalam memperjuangkan anda agar menjadi anak yg
baik, orang yg baik, yg berguna, yg sesuai dengan harapan mereka, dan sadarkah
anda juga sudah seberapa mampu anda membalas itu semua, atau yg paling membuat
saya sedih, mungkin kah anda malah melakukan sebalik nya dengan mengkhianati
nya, durhaka kepada nya? Sadarlah anda bahwa perbuatan itu amat lah sangat
terlaknat, Sebesar apa pun ibadah yang dilakukan oleh seseorang hamba, itu
semua
tidak akan mendatangkan manfaat baginya jika masih diiringi perbuatan
durhaka kepada kedua orang tuanya. Sebab, Allah swt. menggantung
semua ibadah itu sampai kedua orang tuanya ridha. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa dia berkata, “Tidaklah seorang
muslim memiliki dua orang tua muslim, (kemudian) dia berbakti kepada
keduanya karena mengharapkan ridha Allah, kecuali Allah akan
membukakan dua pintu untuknya –maksudnya adalah pintu surga–. Jika dia
hanya berbakti kepada satu orang tua (saja), maka (pintu yang dibukakan
untuknya) pun hanya satu. Jika salah satu dari keduanya marah, maka Allah tidak akan meridhai sang anak sampai orang tuanya itu meridhainya.”
Ditanyakan kepada Ibnu ‘Abbas, “Sekalipun keduanya telah menzaliminya?”
Ibnu ‘Abbas menjawab, “Sekalipun keduanya telah menzaliminya.” dengan itu berati sangat amat di WAJIBKAN bagi kita untuk senantiasa berbakti kepada orang tua sekalipun anda telah di zalimi oleh kedua nya. Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda,
“Sungguh celaka, sungguh celaka, sungguh celaka!” Seseorang bertanya,
“Siapa yang celaka, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab,
“Barangsiapa yang sempat bertemu dengan kedua orang tuanya, tetapi dia
tidak bisa masuk surga (karena tidak berbakti kepada mereka).” Nauzu billahi min zalik, Semoga kita semua jauh dari perbuatan zalim tersebut, dan semoga kita juga senantiasa mampu berbakti kepada orang tua kita agar kita mendapat ridha nya dan ridha Allah SWT. (Dengan membaca ini semoga kita semakin sadar akan pentingnya berbakti kepada orng tua)
Salam saya Mhd.Taufik Nasution.
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, Wassallamuallaikum warrahmatullahi wabarrakatu.
tidak akan mendatangkan manfaat baginya jika masih diiringi perbuatan
durhaka kepada kedua orang tuanya. Sebab, Allah swt. menggantung
semua ibadah itu sampai kedua orang tuanya ridha. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa dia berkata, “Tidaklah seorang
muslim memiliki dua orang tua muslim, (kemudian) dia berbakti kepada
keduanya karena mengharapkan ridha Allah, kecuali Allah akan
membukakan dua pintu untuknya –maksudnya adalah pintu surga–. Jika dia
hanya berbakti kepada satu orang tua (saja), maka (pintu yang dibukakan
untuknya) pun hanya satu. Jika salah satu dari keduanya marah, maka Allah tidak akan meridhai sang anak sampai orang tuanya itu meridhainya.”
Ditanyakan kepada Ibnu ‘Abbas, “Sekalipun keduanya telah menzaliminya?”
Ibnu ‘Abbas menjawab, “Sekalipun keduanya telah menzaliminya.” dengan itu berati sangat amat di WAJIBKAN bagi kita untuk senantiasa berbakti kepada orang tua sekalipun anda telah di zalimi oleh kedua nya. Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda,
“Sungguh celaka, sungguh celaka, sungguh celaka!” Seseorang bertanya,
“Siapa yang celaka, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab,
“Barangsiapa yang sempat bertemu dengan kedua orang tuanya, tetapi dia
tidak bisa masuk surga (karena tidak berbakti kepada mereka).” Nauzu billahi min zalik, Semoga kita semua jauh dari perbuatan zalim tersebut, dan semoga kita juga senantiasa mampu berbakti kepada orang tua kita agar kita mendapat ridha nya dan ridha Allah SWT. (Dengan membaca ini semoga kita semakin sadar akan pentingnya berbakti kepada orng tua)
Salam saya Mhd.Taufik Nasution.
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, Wassallamuallaikum warrahmatullahi wabarrakatu.
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.


